KONSEP ISLAM ARSITEKTUR PINTU PENDEK DI MASJID WALI HADIWARNA KUDUS DAN MASJID AGUNG CIPTARASA CIREBON
DOI:
https://doi.org/10.32699/jiars.v15i2.10714Keywords:
Konsep arsitektur Islam, arsitektur pintu pendek, masjid Jawa Kuno, sintetis budayaAbstract
Masjid Wali Hadiwarna yang dibangun tahun 458 M merupakan salah satu peninggalan masjid Jawa kuno yang ada di Kota Kudus. Selain umurnya lebih tua dari Masjid Menara Kudus (459 M), di dalam masjid terdapat gapura yang bentuknya menyerupai candi bentar atau gapura Padureksan pada arsitektur Hindu. Komponen arsitektur lainnya yang menarik adalah ukuran pintu masuk yang pendek dan kecil pada gapura Padureksan, sehingga hanya cukup untuk satu orang yang masuk dan harus menunduk. Konsep pintu pendek masjid ternyata tidak hanya ditemukan di Kudus tetapi ditemukan juga di beberapa masjid di Cirebon antara lain masjid Agung Sang Ciptarasa. Yang menjadi pertanyaan adalah, konsep apakah yang mendasari terbentuknya arsitektur pintu pendek pada Masjid Wali Hadiwarna dan Masjid Agung Sang Ciptarasa mengingat konsep tersebut tidak terdapat pada Arsitektur candi Hindu ataupun Budha. Maka tujuan dari penelitian ini adalah; 1) Mengidentifikasi penggunaan konsep arsitektur pintu pendek pada arsitektur Islam khusunya masjid Jawa, 2) Menemukan konsep yang dipakai pada arsitektur pintu pendek masjid Wali Hadiwarna kudus dan Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan cara observasi, perekaman data, dan menggali dari sumber primer historiografi. Hasil penelitian menemukan bahwa konsep Arsitektur pintu pendek masjid berasal dari Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 58. Penemuan tersebut sangat penting dan mengindikasikan bahwa para wali penyebar agama Islam di Jawa di dalam membangun arsitekturnya memang mengakomodasi nilai-nilai lokal tetapi juga memegang teguh prinsip prinsip Islam yang bersumber dari Al Qur’an.
References
Alamsyah, Suwardi. 2010. “Nilai Budaya Arsitektur Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon Provinsi Jawa Barat.” Patanjala 2 (2): 172 90.
Annisa, Astrid; Nasution,Ali M. 2024. Interpretasi Kaidah Arsitektur Islam Pada Desain Rumah Tradisional Aceh
Atika. 2020. “Makna Simbolik Arsitektur Masjid Agung Sang Cipta Rasa Sebagai Media Dakwah Pada Masyarakat Cirebon: Analisis Semiotika Charles Sanders Peirce.” Skripsi IAIN Purwokerto.
Azzaki,A,F. 2021, Akulturasi Budaya Masjid Menara Kudus ditinjau dari Makna dan Simbol, Simposium Nasional RAPI XX-2021 FT UMS,
Hermanto, Heri. 2023, Konsep Islam Yang Mendasari Bentuk Menara Kudus dan Ornamen di Masjid Al Aqsha, Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNSIQ, Vol. 10 No. 1, 1 - 7
Hermanto, Heri, Masfufah, U. 2023, Bentuk dan Makna Ornamen lawang Kembar Masjid Menara Kudus, Jurnal Ilmiah Arsitektur, Vol. 13 No. 1, 117 – 125, https://doi.org/10.32699/jiars.v13i1.5127
Hermanto, Heri. 2024. Kesinambungan Bentuk Arsitektur Hindu Pada Gapura Padureksan di masjid Kuno Kudus. Jurnal Ilmiah Arsitektur, Vol. 14 No. 2 (2024): Desember https://doi.org/10.32699/jiars.v14i2.8484
Tuyu, Marcell Andrew; Herwindo. Relation Of Typomorphology Of Hindu And Buddhis Temples In The Ancient. Jurnal RISA (Riset Arsitektur), Volume 05, Nomor 02, edisi April, https://journal.unpar.ac.id/
Putra,Riza,Aulia;Ekomadyo. Elaboration of Sign (Decoding) of Rumoh Aceh Using Semiotics Approach. Jurnal Tesa Arsitektur Unika, Vol 13, No 1 (2015) , https://journal.unika.ac.id/index.php/tesa/article/view/354.
Rochani, Ahmad Hamam. 2008. Babad Cirebon . Cirebon: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon.
Syarif,Khilman, 2019. Analisis Penggunaan Jam Bencet Untuk Menentukan Awal Waktu Sholat Zuhur (Studi Kasus Masjid Baitul Aziz Desa Hadiwarno Kecamatan Mejobo Kabupaten Kudus) , skripsi, UIN Walisongo, Semarang.











