DI ANTARA BARA DAN MAKNA: TAFSIR FILOSOFIS ATAS PERANG OBOR JEPARA SEBAGAI WARISAN ETIKA DAN EKSISTENSI
Abstract
Indonesia merupakan negara yang kaya akan ragam budaya dan tradisi lokal yang hiduo dalam masyarakat secara turun-temurun. Salah satu bentuk kekayaan budaya tersebut adalah perang obor, tradisi unik masyarakat Jepara Jawa Tengah yang diselenggarakan menjelang bulan Sura (Muharram) setiap tahun. Tradisi perang obor di Desa Tegalsambi, Jepara, merupakan fenomena budaya yang kaya akan simbol dan nilai. Di tengah arus modernisasi dan pariwisata budaya, tradisi ini tidak hanya bertahan secara bentuk, tetapi juga mengandung kedalaman makna yang layak ditafsirkan secara filosofis. Tujuan dari penelitian ini adalah menafsirkan makna filosofis yang terkandung dalam tradisi perang obor di Jepara melalui pendekatan etika dan eksistensialisme, serta mengidentifikasi simbol-simbol budaya dalam tradisi Perang Obor dan menjelaskan perannya dalam membentuk nilai modal dan spiritual masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan pijakan hermeneutika filosofis, guna memahami makna simbolik, nilai-nilai etika, dan eksistensialitas yang terkandung dalam perang obor di Jepara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perang obor ditampilkan sebagai laku asketik kolektif, ruang pembentukan desain komunal, sekaligus medan perlawanan terhadap pelupaan kultural. Perang obor tidak hanya menjaga tradisi, melainkan juga merawat eksistensi manusia dalam komunitasnya secara sadar dan bermakna.
References
Baudrillard, J. (1994). Simulacra and Simulation. Ann Arbor: University of Michigan Press, 1994.
Capra, F. (1999). The Tao of Physics. Boston: Shambhala.
Connerton, P. (2009). How Modernity Forgets. Cambridge: Cambridge University Pres.
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jepara. (2022). Dokumentasi Tradisi Perang Obor Jepara. Jepara: Arsip Dinas Pariwisata.
Eliade, M. (1959). The Sacred and The Profane: The Nature of Religion. Orlando: Harcourt.
Geertz, C. (1973). The Interpretation of Cultures. New York: Basic Books.
Giddens, A. (1991). Modernity and Self-Identity: Self and Society in the Late Modern Age. Stanford: Stanford University Press.
Gadamer, H. (2004). Truth and Method. 2nd ed. London: Continuum.
Halbwachs, M. (1992). On Collective Memory. Chicago: University of Chicago Press.
Halbwachs, M. (1980). The Collective Memory. New York: Harper & Row.
Heidegger, M. (1962). Being and Time. Diterjemahkan oleh John Macquarrie dan Edward Robinson. New York: Harper & Row.
Heidegger, M. (1995). The Fundamental Concepts of Metaphysics. Bloomington: Indiana University Press.
Kasulis, T. P. (2002). Intimacy or Integrity: Philosophy and Cultural Difference. Honolulu: University of Hawai‘i Press.
Kirk, G.S., Raven, J. E. & M. Schofield, M. (1983). The Presocratic Philosophers. Cambridge: Cambridge University Press.
Koentjaraningrat. (2004). Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia.
Levinas, E. (1985). Ethics and Infinity: Conversations with Philippe Nemo. Pittsburgh: Duquesne University Press.
Levinas, E. (1969). Totality and Infinity: An Essay on Exteriority. Pittsburgh: Duquesne University Press.
Moleong, L. J. (2013). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nora, P. (1989). Between Memory and History: Les Lieux de Mémoire. Representations, no. 26, 7–24.
Ricoeur, P. (1967). The Symbolism of Evil. Boston: Beacon Press.
Russell, B. (2004). History of Western Philosophy. London: Routledge.
Sartre, J. P. (2007). Existentialism Is a Humanism. New Haven: Yale University Press.
Tillich, P. (1954). Love, Power, and Justice: Ontological Analyses and Ethical Applications. Oxford: Oxford University Press.
Weil, S. (2001). Waiting for God. New York: Harper Perennial.