Analisis Perbandingan Penggunaan Bioenzim Dan Abu KayuSebagai Bahan Stabilisasi Tanah Lempung
DOI:
https://doi.org/10.32699/pasak.v4i1.10891Keywords:
tanah lempung, stabilisasi tanah, bioenzim organik, abu kayu, CBRAbstract
Tanah lempung merupakan jenis tanah yang sering menimbulkan masalah pada konstruksi jalan karena karakteristiknya yang memiliki daya dukung rendah, plastisitas tinggi, serta sifat kembang-susut yang besar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan efektivitas penggunaan Bioenzim Organik dan Abu Kayu sebagai bahan stabilisasi tanah lempung yang diambil dari Desa Jono, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan. Lokasi tersebut dipilih karena kondisi jalannya yang mengalami kerusakan serius berupa retakan hingga amblas. Metode penelitian dilakukan melalui pengujian laboratorium dengan variasi penambahan campuran Bioenzim Organik sebesar 0,03%, 0,04%, dan 0,05%, serta variasi Abu Kayu sebesar 12,5%, 15%, dan 17,5%. Pengujian yang dilakukan meliputi uji sifat fisik (analisa butiran dan batas-batas Atterberg) serta uji sifat mekanik melalui pemadatan (Standard Proctor) dan California Bearing Ratio (CBR). Hasil pengujian menunjukkan bahwa kedua bahan tersebut efektif dalam memperbaiki karakteristik tanah lempung. Penggunaan Bioenzim Organik mampu menurunkan nilai indeks plastisitas tanah dan meningkatkan nilai CBR, Nilai CBR tertinggi untuk stabilisasi bioenzim ditemukan pada variasi dosis 0,05% (CBR 3.c) dengan nilai 10,59% mengalami peningkatan sebesar 126% sebesar 4,68%. Sementara itu, penambahan Abu Kayu mampu meningkatkan nilai CBR tertinggi variasi dosis 17,5% (CBR 7.c) dengan nilai mencapai 11,82% mengalami peningkatan sebesar 153% dari nilai CBR tanah asli. Terjadi peningkatan signifikan setelah distabilisasi dengan kombinasi gabungan bioenzim dan abu kayu, dengan hasil kisaran 10,03%–17,02%. Nilai tertinggi mencapai 17,02% pada capuran Bioenzim 0,1% dan Abu kayu 17,5% (CBR 16.c), menunjukkan peningkatan daya dukung yang sangat signifikan dibandingkan tanah asli. Secara keseluruhan, abu kayu memberikan nilai peningkatan daya dukung (CBR) yang lebih tinggi dibandingkan bioenzim organik untuk sampel tanah Desa Jono. Namun, bioenzim tetap menjadi alternatif yang sangat potensial karena efektif dalam dosis yang sangat kecil (0,06% - 0,1%) dan lebih ramah lingkungan, dan untuk memaksimalkan penggunaan dianjurkan menggabungkan kedua bahan agar mendapatkan hasil yang lebih optimal.

